CHCECIE BAJKI, OTO BAJKA…

“Mendongeng tentang Binturung[1] yang melarikan diri dari Kebun Binatang di Bali”

Urodziny numer 32

binturung by Brenden Wenzel

Setiap hari Jumat di Kebun Binatang di Bali ada pesta di dalam kolam, yang terletak di kandang Si Buaya. Minggu ini pestanya diatur seperti biasa dan mulai jam 19:00 WITA.

Tidak ada satu binatang pun yang mengetahui, bahwa pesta tersebut adalah Pesta Selamat Tinggal untuk satu temannya.

Si Binturung adalah saudara yang sopan, ramah, berani, dan dihormati oleh kebanyakan hewan. Dia menyusun rencana untuk melarikan diri dari Kebun Binatang di Bali malam ini. Bahkan Si Buaya, kawannya yang paling akrab, tidak mengetahui tentang rencana tersebut.

Ketika semua tamu datang, pestanya mulai dengan baik. Banyak makanan dan minuman diberikan kepada binatang-biantang yang diundang. Setelah makan, bukan hanya binatang, melaikan juga penjaga kebun mulai menyanyi dan menari.

Sementara tamu undangan berpesta dengan riangnya, Si Binturung melihat jam tanga, yang warisi dari bibinya, dan katanya pada diri sendiri “Waktunya sudah tepat, Aku harus melarikan diri sekarang”.

Si Binturung lalu memakai jaket dan mengambil kunci sepeda motor, yang dia curi dari seorang penjaga, yang selalu mabuk.

Ia melemparkan pandangan terakhir kepada semua binatang-binatang dan rumahnya lalu mulai berlari ke pagar di mana dia menemukan lubang kecil. Pagarnya belum diperbaiki minggu lalu dan Si Binturung mengambil keuntungan dari hal itu.

Ketika dia berlari dengan cepat, tiba-tiba suara yang ia kenal bisa didengar oleh Si Binturong yang berani. “Berhentilah ! Mau ke mana?” Ia mengetahui, bahwa itu Si Buaya, temannya.

Si Binturung berhenti dan berbalik. Si Buaya bisa dilihat di antara rumput di depannya. Dia mendatangi Buaya, ketika dia mulai menangis dan berkata:

  • Mengapa kamu melarikan diri sendiri? Aku tidak mau kamu meninggalkan aku. Aku cinta kamu!!!
  • Temanku! Aku harus keluar untuk belajar tentang kehidupan, tentang Dunia. Aku harus mencari pengetahuan leluhurku. Aku harus pergi ke tanah nenek dan kakekku di Pulau Sumba di Nusa Tengara Timur. Tidak ada yang bisa menghentikanku. – Jawab Si Binturung.
  • Mari kita pergi bersama! Aku pasti bisa. – kata Si Buaya.
  • Aku minta maaf, tetapi tidak mau... Pelajarannya harus Aku buat sendiri.
  • Kalau begini, Aku akan mulai menjerit dengan suara keras, untuk memanggil semua penjaga. Mereka akan menangkapmu.
  • Jangan lakukan itu Buayaku! – pinta Si Binturung – Aku memang minta maaf, tolong jangan menjerit ! Pelajaran itu penting sekali untukku. Aku bersumpah kembali ke sini. Kamu harus mengerti, Aku tidak bisa tidur dengan baik, kalau tidak tahu tentang keluargaku. Aku tidak pernah ke tanah di mana tempat lahirku. Mau belajar tentang budaya orang tuaku. Kamu dari Sumatera, orang tuamu hewan yang terkenal, kamu moslem. Aku, sebaliknya tidak tahu dan tidak mengerti agamaku. Harus menemukan diri dan berbicara dengan orang Sumba. Mau melihat rumah keluargaku.
  • Baiklah, Aku membiarkan Kamu pergi ke sana. Tetapi tolong kembalilah! Aku mau tunggu kamu! Hatiku sakitnya di sini sekarang, tetapi bisa mengerti. Pergilah ke pulau Sumba dan temukanlah kehidupanmu dan kembali untuk perkawinan kita. Aku mau menjadi istrimu pada waktu yang tepat. – kata Si Buaya dengan air mata.

Mereka berpelukan, kemudian Si Binturung pergi dari Kebun. Si Buaya merasa sedih, tetapi ia kembali ke kolam dan berpesta seperti biasa.

Tidak ada yang bisa melihat kehilangan Si Binturung. Kalau siapa bertanya Si Buaya mengatakan bahwa dia sedang sakit dan tidur di rumahnya.

Hingga matahari terbit kehilangannya tidak bisa diketahui. Ketika penjaga kabun menemukan, bahwa Si Binturung hilang, dia sudah tiba ke Lombok dan bersepeda ke pelabuhan untuk naik kapal laut ke Sumbawa.

Rencananya pelajarannya tidak mudah. Petama – tama harus naik sepeda dari Kebun Binatang, yang teletak dekat dari Gianyar, ke pelabuhan di Padangbai. Kemudian pakai kapal laut ke Lembar di Pulau Lombok. Di sana Si Binturung menemukan gunung api namanya Rinjani. “Mungkinkah aku bis naik ke gunung itu?” – berpikir Si Binturung. Tetapi dia tahu, dai tidak mempunyai waktu. Di depan jalannya masih panjang.

Ketika ia tiba di Sumbawa, ia sangat capek dan harus beristrirahat dan santai sedikit. Dia pergi ke pantai dekat dari kota Sumbawa Besar dan menemukan tempatnya bagus untuk mandi dan tidur.

Besok pagi sinar matahari menyentuh mukanya. Pertama – tama yang bisa dilihat adalah gunung api namanya Tambora. Dia tidak pernah belajar ke Universitas, oleh karena itu pendidikannya kurang bagus. Dia tidak tahu tentang gunung, tetapi berpikir: “Ayo! Mari naik Tmabora ! Tidak mau meninggalkan Sumbawa tanpa belajar tentang gunungnya !

Si Binturung naik speda motor dan pergi ke desa Oi Panihi. Desa itu paling dekat dengan Tambora.

Dua hari dia berjalan ke sana. Jalan di Sumbawa kurang bagus. Akhirnya ia tiba di desa dan tinggal di satu – satunya penginapan. Banyak orang dan binatang muda tinggal di sana.

Pertama, Si Binturung mandi dengan cepat dan ingin makan sesuatu. Demikian dia keluar dari penginapan dan menuju ke warung di depan alun-alun.

Dalam waktu kurang dari lima menit, Harimau duduk di sampingnya dan berkata:

  • Selamat siang Si Binturung
  • Selamat siang – jawab Si Binturung
  • Apkah Anda mau naik Tambora malam ini? – bertanya Si Harimau – Kami sudah delapan orang.
  • Saya ingin sekali! Terima kasih.
  • Silakan! Kami akan keluar jam sebelas malam, karena perlu banyak waktu untuk naik ke kawah.
  • Baiklah! Saya akan siap pada pukul sebelas malam.
  • Jangan lupa membawa lampu dan makanan. Pakai baju dan sepatu bagus, khusus untuk naik gunung. Di atas pasti dingin, mungkin ada hujan. – Si Harimau meningatkan.
  • Tentu saja! Saya sudah mempunyai bulu tebal, tetapi akan pakai jaket kuli juga.
  • Sempurna! Kami, yang mau naik, akan bertemu dan berbicara sore ini di kantin di jalan Bima nomor 5. Bergabunglah dengan kami! Akan mengenalmu lebih bagus sebelum naik bersama.
  • Saya menyukai ide itu. Pasti Saya ke sana.
  • Jadi! Sampai Jumpa nanti
  • Sampai jumpa sore ini.

Tampaknya hal ternyata lebih baik daripada dia pikir. Setelah makan Si Binturung jalan – jalan kaki melalui pantai dan berkeliling desa. Kemudian kembali ke penginapan dan tidur sebentar.

Sore ini ia mamakai kaos paling bagus, yang dia punya, dan pergi ke kantin untuk bertemu dengan teman – teman yang baru.

Ada banyak orang dan binatang di kantin. Akhirnya ia bisa melihat Si Harimau dan temannya. Ketika mendekati mereka berhenti bicara dan mulai perkenalkan diri:

  • Saya bernama Minke – kata seorang laki – laki yang tampan di pojok – dari Solo.
  • Nama saya Loli – kata perempuan, mukanya kurang cantik tetapi dia tinggi dan badannya kurus.
  • Saya Si Tupai dari Kalimantan
  • Saya Si Anjing dari Flores – kata anjing ukurannya sedang dan brwarna hitam – Nama saya Sudoq –
  • Nama saya Julio, saya Si Banteng dari Spanyol, tetapi saya tinggal di Bali.
  • Saya Garuda dari Lombok dan di samping ada istri saya.
  • Dan kami sudah bertemu – saya Si Harimau. Selamat Datang Si Binturung.
  • Selamat Sore semuanya. Saya mau ucapkan Terima Kasih untuk undangan. Saya Binturung, saya melarikan diri dari Kebun Binatang di Bali dan saya berjalan dengan tujuan pulau Sumba. Sangat bagus untuk mengenalkan Anda. Saya senang sekali saya bisa naik gunung api Tambora bersama Anda. – menjawab Si Binturong.
  • Sekarang, ketika kita bertemu dan sudah berkenalkan, mari kita dengar tentang Tambora. Saya mengundang seorang profesional. Ia bernama Nando dan tinggal di desa ini.
  • Selamat sore, Nando – kata semuanya kepada tamu baru datang.
  • Selamat sore saudara dan saudari. Saya membawa buku panduan yang mempunyai banyak infromasi tentang gunung api Tambora. Artikel ini sendiri saya tulis berdasarkan di Wikipedia.

Dan Nando mulai membaca dan teman – temannya mendengarkan dengan menarik.

Ini katanya:

“Aktivitas vulkanik gunung berapi Tambora mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815.

Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 1881.

Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas, karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.

Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19. Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan pada tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.

Gunung Tambora masih berstatus aktif. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.”[2]

Setelah pertemuan menarik Si Binturung kembali ke ruang untuk mengambil barang – barang dan tas ransel. Ini adalah pertama kali dia akan naik ke gunung api dan luasnya Tambora membuatnya takut.

Satu jam pertama mereka naik melewati perkebunan kopi dan sayuran dan akhirnya berakhir di sebuah pemukiman kecil yang dibangun oleh beberapa Keluarga Bali. Sebuah candi Hindu mistik juga mereka lihat.

Binturung by Tinysnail

 Setelah berangkat ke Pos satu, jalur mengarah beberapa meter ke lembah sempit. Dari sana pertama seratus meter adalah bagian tersulit, karena ada banyak batu kecil dan jalur menjadi licin sekali. Mereka harus bergerak cepat ketika memasuki wilayah lintah. Semakin sedikit berhenti, sedikit peluang mereka digigit oleh lintah.

Saat mereka lebih dekat ke tempat tidur untuk malam ini, hutan kehilangan dan bertahap padatnya memungkinkan pandangan lingkungan lebih baik dan sekarang mereka bisa sekilas puncak. Kemudian awan membuka pada saat yang sama mereka mendirikan tendanya. Dari dalam mereka menikmati hujan yang dingin.

Setelah malam panjang dan gelisah itu, tujuan mereka untuk berangkat sekitar jam 4:00 malam.

Ketika mereka akhirnya mencapai kawah, mereka disambut oleh kabut yang sangat tebal. Tidak ada kesempatan untuk melihat lebih jauh dari 10 meter. Selain kabut tebal, angin dingin deras meyakinkan mereka agak cepat, bahwa mereka harus menyerah pada gunung dan memulai perjalanan pulang yang sangat panjang.

Pendakian yang sulit ini, telah menjadi pengalaman berharga untuk Si Binturung. Dia merasa lebih kuat dan bersemangat untuk tantangan baru. Waktu yang tepat untuk pergi ke pulau Sumba.

Ketika sahabat datang di penginapan sama yang sudah tinggal sebelum pendakian, Si Binturung ucapkan selamat tinggal kepada semua teman – teman dan berangkat.

Jalan ke Bima, ibukota pulau Sumbawa, dikalahkan tanpa halangan. Si Binturung senang dan penuh rasa bangga. “Perjalanan itu adalah ide paling bagus.” – teriaknya saat mengemudi motor.

Akhirnya Si Binturung mencapai pelabuhan di mana dia harus menemukan kapal laut ke Labuhan Bajo – kota di halaman pulau Flores. Jalan yang harus dilalui masih panjang untuk mencapai tujuannya, tetapi ia tidak bisa menolak berhenti untuk sesaat dan makan di pesisir yang indah. Dia bisa melihat, bahwa banyak orang menyelam di perairan Taman Nasional Komodo. “Ini harus menjadi luar biasa untuk melihat dunia di bawah laut” – pikir Si Binturung – “Ada begitu banyak hal yang ingin saya lakukan” – saat berkata mulai menulis kartu pos untuk kekasihnya. Kartu pos yang merupakan dua gambar. Yang pertama disajikan komodo, ketika gigit kerbau, yang kedua disajikan ikan hiu, kura – kura dan seorang penyelam di antara kerang. Menulis di kartu pos ucapan: “Salam dari pulau paling hijau di seluruh Indonesia.” Di halaman kedua Si Binturung menulis:

 

 

by Roger Hall

Labuhan Bajo, Flores

28.03.1983

Tersayang Buayaku!

Aku sudah datang ke pulau Flores. Nama pulau ini dari bahasa Portugis yang berarti „bunga”. Terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Flores termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali, di mana aku meninggalkanmu.

Aku merindukanmu! Tidak ada momen ketika saya berpikir tentang Kamu! Aku minta maaf lagi, karena aku menolak kami pergi bersama.

Saya harap kamu baik dan sehat.

Aku cinta kamu!!!

Binturungmu

Satu minggu telah berlalu sebelum akhirnya Si Binturung mencapai tujuannya. Kapal laut naik, jauh dari pulau keluarga, Pulau Sumba. Sambil menunggu di pelabuhan, ia mulai membaca buku dengan informasi tentang pulau ini yang tidak ia tahu.

“Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 m). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah selatan dan barat. Sebelum dikunjungi bangsa Eropa pada 1522, Sumba tidak pernah dikuasai oleh bangsa manapun. Sejak 1866, pulau ini dikuasai oleh Hindia-Belanda dan selanjutnya menjadi bagian dari Indonesia.

Masyarakat Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras Mongoloid dan Melanesoid. Sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan animisme Marapu dan agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Kaum muslim dalam jumlah kecil dapat ditemukan di sepanjang kawasan pesisir.”[3]

“Ayo! Ke Sumba!menangis ketika kapal menuju ke kota Waingapu.

Ketika Si Binturung tiba di Waingapu, matahari sudah terbenam dan kota bersinar dengan lampu – lampu dari gerobak pedagang kaki lima. Segala sesuatu tampak berada sangat ramah. Si Binturung berhenti untuk makan di warung namanya “Maramba”. Pemiliknya adalah seorang yang tua dan badannya membungkuk jauh ke depan. Si Binturung mengenalkan diri dan minta Manggulu, penganan khas Sumba.

– Ayo! Pilihan paling bagus dan enak. Apakah Anda mengetahui tentang makanan ini?

– Ngga! Saya baru datang ke Sumba.

– Baiklah! Saya menjelaskan Anda tentang makanan ini. Dengarkan.

Dan Bapak mulai cerita tentang Manggulu: Manggulu adalah salah satu penganan khas Sumba. Ukurannya kecil dan bentuknya mirip dodol. Hanya di beberapa wilayah yang masyarakatnya masih membuat produk tersebut. Itu pun hanya pada waktu-waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu.

Dalam kemasan aslinya, Manggulu dibungkus dengan daun pisang kering. Bagi orang Sumba, daun pisang kering memiliki nilai pengawet. Namun belakangan daun pisang mulai diganti dengan kemasan modern seperti plastik.

Caranya, pisang kepok masak harus dikeringkan dahulu, kacang tanah goreng dikeluarkan kulit arinya. Kacang tanah kemudian ditumbuk. Demikian juga pisang masak kering. Setelah kedua bahan ini halus, dicampur lalu dibentuk. Kalau cara tradisional, pembentukan dengan menggunakan tangan. Namun belakangan pencampuran dan pembentukan bisa menggunakan mesin penggiling.

Manggulu saat ini memang masih ditemukan di wilayah-wilayah tertentu di Sumba Timur, seperti di Nggongi, Kahunga Eti. Namun produksinya tidak banyak. Karena itu, Manggulu jarang ditemukan di toko-toko kue. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Itupun jarang laku terjual karena Manggulu seakan tenggelam di antara penganan dari luar.”[4]

  • Terima kasih Pak, ceritanya sangat menraik. Saya suka sekali makanan ini dan rasanya memang enak dan manis sekali. Saya pasti akan memakannya setiap hari ketika saya di sini.
  • Saya senang sekali, Anda menyukai produknya. Ini dibuat oleh istri saya. Berapa lama Anda akan tinggal di Sumba?
  • Belum tahu. Saya datang ke sini untuk menemukan rumah orang tua saya. Sumba adalah tempat lahir saya.
  • Siapa nama orang tuamu?
  • Ini adalah masalah. Saya tidak tahu. Saya hanya tahu mereka tadi tinggal di Tambolaka. Apakah Bapak bisa bantu saya?
  • Saya pasti bisa bantu!!! Saya sudah tua, dan tempat lahirku di kota Tambolaka. Apakah Anda mau tinggal di rumahku untuk malam ini, akan dihormati dengan istrinya dan besok pagi kami pergi bersama ke Tambolaka. Saya punya banyak teman di kantor kota. Saya yakin akan mendapat beberapa informasi.
  • Terima kasih Bapak. Saya tidak bisa menolak undagan yang luar biasa ini.
  • Jadi! Selamat malam! Mimpi manis!
  • Sampai besok Bapak! Terima Kasih banyak lagi!

Perjalanan ke Tambolaka sangat menarik. Mereka beristrirahat beberapa kali di pinggir sungai. Selain itu mereka juga berhenti di banyak desa, yang sangat menarik, seperti Umbara, Pau, dan Tambahak. Di semua desa mereka menemukan patung batu, ikat dan pabrik tenun.[5]

Ketika mereka tiba di Tambolaka mereka lurus menuju ke kantor kota. Ternyata Bapak mengetahui seorang wanita yang bekerja di Kantor Catatan Sipil.

  • Selamat sore Ibu – berkata Bapak – Binturung muda ini mau bertanya tentang sertifikat lahirnya. Dia dibesarkan di pulau Bali, tanpa orang tua, tetapi sekarang ada waktu untuk mengetahui keluarganya.
  • Oh! Baiklah! Tidak masalah! Sebenarnya di Tambolaka tadi tinggal hanya satu keluarga Binturung. Semuanya sudah meninggal, kecuali satu Binturung wanita. Jika saya tidak salah wanita itu adalah bibi Anda.
  • Benar – benar? Anda ucapkan saya punya keluarga yang tinggal di sini? Apa ini sebuah penemuan? Terima kasih! Di mana rumahnya?
  • Ahhh sama-sama. Ini alatnya! Tolong, menyalami bibimu dariku.

Tambolaka, Pulau Sumba

10.04.1983

Tersayang Buayaku!

Hal yang luar biasa terjadi. Aku punya Bibi. Ia juga binturung seperti aku. Ia sudah tua, tetapi sehat. Aku tinggal di rumah bibinya dan setiap hari kami berjalan – jalan kaki dan berbicara tanpa henti. Bayangkan bahwa, suaminya adalah pemain Pasola yang terkenal. Tentu saja Kamu tidak tahu apa itu Pasola.

Pasola berasal dari kata „sola” atau „hola”, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat sumba).

Menurut cerita rakyat Sumba, pasola berawal dari seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang. Rabu Kaba mempunyai seorang suami yang bernama Umbu Amahu, salah satu pemimpin di kampung Waiwuang. Selain Umbu Amahu, ada dua orang pemimpin lainnya yang bernama Ngongo Tau Masusu dan Bayang Amahu. Suatu saat, ketiga pemimpin ini memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka akan melaut. Tapi, mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi.Warga menanti tiga orang pemimpin tersebut dalam waktu yang lama, namun mereka belum pulang juga ke kampungnya. Warga menyangka ketiga pemimpin mereka telah meninggal dunia, sehingga warga pun mengadakan perkabungan. Dalam kedukaan itu, janda cantik dari almarhum Umbu Dula, Rabu Kaba terjerat asmara dengan Teda Gaiparona yang berasal dari Kampung Kodi. Namun keluarga dari Rabu Kaba dan Teda Gaiparona tidak menyetujui perkawinan mereka, sehingga mereka mengadakan kawin lari. Teda Gaiparona membawa janda tersebut ke kampung halamannya. Beberapa waktu berselang, ketiga pemimpin warga Waiwuang (Ngongo Tau Masusu, Bayang Amahu dan Umbu Amahu) yang sebelumnya telah dianggap meninggal, muncul kembali di kampung halamannya. Umbu Amahu mencari isterinya yang telah dibawa oleh Teda Gaiparono. Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang, Rabu Kaba yang telah memendam asmara dengan Teda Gaiparona tidak ingin kembali. Kemudian Rabu Kaba meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Belis merupakan banyaknya nilai penghargaan pihak pengambil isteri kepada calon isterinya, seperti pemberian kuda, sapi,kerbau, dan barang-barang berharga lainnya. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona. Pada akhir pesta pernikahan, keluarga Umbu Dulla berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik, Rabu Kaba.[6]

Buayaku, aku senang sekali dan ingin tinggal di sini selama sisa hidup saya. Bibiku dan Aku akan datang ke Bali minggu depan. Tolong, kemasi tas dan beritahulah orang tuamu bahwa perkawinan kita di Bali pada tanggal 23.05.1983. Setelah upacara kami naik pesawat dan pulang ke rumahku di pulau Sumba di mana aku ingin membangun rumah bagi kita dan anak-anak kita.

Untuk semua kamu!!!

Binturungmu

[1] Binturung (Arctictis binturong) adalah sejenis musang bertubuh besar, anggota suku Viverridae. Beberapa dialekMelayu menyebutnya binturongmenturung atau menturun. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut BinturongMalay Civet CatAsian BearcatPalawan Bearcat, atau secara ringkas Bearcat. Barangkali karena karnivora berbulu hitam lebat ini bertampang mirip beruang yang berekor panjang, sementara juga berkumis lebat dan panjang seperti kucing (bear: beruang; cat: kucing).

http://id.wikipedia.org/wiki/Binturung

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sumba

[4] http://kupang.tribunnews.com/2010/01/23/manggulu-penganan-khas-sumba-yang-mulai-tergeser

[5] http://www.sumba-information.com/where-to-go.html

[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Pasola

 

TO MOJE DZIEŁO NA ZALICZENIE 3-GO SEMSTRU NA BIPA UNUD W MAJU 2015 ROKU…

WIEM, WIEM… NIC NIE PISZĘ, ALE UWALNIAM SIĘ OD PRACY POWOLI :)

Tagged , ,

Dodaj komentarz